Dalam pembahasan tentang jasa pemakaman, praktik kremasi sering kali menjadi topik yang paling banyak ditanyakan, terutama ketika dikaitkan dengan ajaran agama Buddha.

Banyak orang mengetahui bahwa umat Buddha umumnya melakukan kremasi bagi jenazah, namun tidak semua memahami alasan filosofis, makna spiritual, serta proses yang dijalani di balik tradisi tersebut. Di sisi lain, tidak semua aliran Buddha mewajibkan kremasi, bahkan ada tradisi tertentu yang lebih memilih penguburan.

Artikel ini akan membahas secara lengkap dan santai tentang alasan kremasi dalam agama Buddha, pandangan beberapa tradisi yang berbeda, serta bagaimana proses kremasi dilakukan sesuai ajaran dan nilai-nilai Buddhis. Yuk kita pelajari bersama.

Pandangan Dasar Agama Buddha tentang Kematian

Dalam ajaran Buddha, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian dipandang sebagai bagian alami dari siklus kehidupan yang dikenal sebagai samsara, yaitu siklus kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali.

Tubuh jasmani dianggap sebagai wadah sementara bagi batin atau kesadaran. Setelah seseorang meninggal, tubuh tersebut tidak lagi memiliki fungsi spiritual. Oleh karena itu, cara memperlakukan jenazah dalam agama Buddha lebih menekankan pada kesederhanaan, penghormatan, dan ketidakterikatan, bukan pada kemewahan atau ritual yang berlebihan.

Prinsip inilah yang menjadi dasar mengapa proses kremasi banyak dipilih dalam praktik Buddhis.

Mengapa Kremasi Umum Dilakukan dalam Agama Buddha?

Sebelum memahami lebih jauh tentang proses dan tata cara kremasi dalam agama Buddha, penting untuk mengetahui terlebih dahulu alasan mendasar mengapa praktik kremasi begitu umum dilakukan oleh umat Buddha dan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar tradisi pemakaman.

1. Tubuh Bersifat Tidak Kekal (Anicca)

Salah satu ajaran utama Buddha adalah anicca, yaitu ketidakkekalan. Semua hal yang terbentuk, termasuk tubuh manusia, pasti akan hancur dan berubah.

Kremasi dianggap sebagai simbol paling jelas dari ajaran ini. Ketika tubuh dibakar dan kembali menjadi abu, umat Buddha diingatkan bahwa tubuh hanyalah materi sementara yang tidak perlu dilekati secara berlebihan.

2. Meneladani Parinirvana Sang Buddha

Secara historis, Sang Buddha Gautama sendiri dikremasi setelah mencapai Parinirvana (wafatnya Buddha). Abu jenazah beliau kemudian dibagi dan disimpan dalam stupa sebagai bentuk penghormatan, bukan pemujaan terhadap jasad.

Karena itu, banyak umat Buddha memandang kremasi sebagai cara pemakaman yang mengikuti teladan Sang Buddha.

3. Mengurangi Keterikatan Keluarga

Dalam ajaran Buddha, keterikatan yang berlebihan dapat menjadi sumber penderitaan. Proses kremasi membantu keluarga untuk lebih cepat menerima kenyataan bahwa orang tercinta telah meninggal, serta belajar untuk melepaskan.

Melihat tubuh kembali menjadi abu secara simbolis membantu keluarga memahami bahwa yang telah pergi tidak lagi terikat pada bentuk fisik.

4. Praktis dan Selaras dengan Nilai Kesederhanaan

Kremasi juga dipandang lebih praktis, sederhana, dan efisien. Hal ini sejalan dengan nilai Buddhis yang mengajarkan hidup sederhana dan tidak berlebihan, termasuk dalam urusan kematian.

Apakah Kremasi Wajib dalam Agama Buddha?

Jawabannya: tidak wajib secara mutlak. Agama Buddha tidak memiliki aturan kaku mengenai cara pemakaman. Yang terpenting bukanlah metode pemakaman, melainkan kondisi batin almarhum dan keluarga yang ditinggalkan.

Hal ini membuat praktik pemakaman dalam Buddhisme sangat fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan budaya, tradisi lokal, serta kondisi tertentu.

Tradisi Buddha yang Lebih Memilih Penguburan

Walaupun kremasi lebih umum, ada beberapa kondisi dan tradisi Buddhis yang memilih penguburan, antara lain:

1. Tradisi Buddha di Wilayah Tertentu

Di beberapa negara atau komunitas, penguburan dilakukan karena faktor budaya, iklim, atau hukum setempat. Misalnya, di wilayah dengan keterbatasan fasilitas krematorium, penguburan menjadi pilihan yang realistis.

2. Aliran Mahayana dan Tradisi Tiongkok

Dalam tradisi Buddha Tiongkok yang dipengaruhi oleh nilai Konfusianisme, penghormatan terhadap leluhur sangat kuat. Beberapa keluarga memilih penguburan agar makam dapat menjadi tempat penghormatan dan ziarah keluarga.

Namun, penguburan ini tetap dilakukan dengan prinsip kesederhanaan dan tanpa keyakinan bahwa jasad memiliki nilai spiritual setelah kematian.

3. Praktik Khusus bagi Biksu Tertentu

Dalam beberapa kasus langka, jenazah biksu yang dianggap memiliki tingkat spiritual tinggi tidak langsung dikremasi. Ada yang diawetkan sementara atau dimakamkan sebelum akhirnya dikremasi, tergantung tradisi vihara setempat.

Makna Spiritual di Balik Kremasi Buddhis

Bagi umat Buddha, kremasi bukan sekadar proses fisik, tetapi juga ritual spiritual yang penuh makna.

Api dalam kremasi melambangkan:

  • Pelepasan unsur duniawi
  • Penyucian keterikatan
  • Kembalinya tubuh ke unsur alam

Abu jenazah yang tersisa biasanya disimpan dalam guci dan dapat ditempatkan di vihara, stupa, atau lokasi yang dianggap pantas oleh keluarga.

Bagaimana Proses Kremasi dalam Agama Buddha?

Sebagai bagian dari penghormatan terakhir, proses kremasi dalam agama Buddha dijalani melalui beberapa tahapan yaitu:

1. Persiapan Jenazah

Proses kremasi dalam agama Buddha dimulai dari persiapan jenazah. Jenazah biasanya dimandikan sebagai bentuk penghormatan terakhir, lalu dipakaikan pakaian yang bersih dan sopan. Beberapa orang juga lebih memilih menggunakan jasa pengurusan jenazah di tengah momen berduka ini.

Dalam banyak tradisi Buddhis, jenazah tidak dirias secara berlebihan karena kesederhanaan merupakan bagian penting dari ajaran Buddha. Pada tahap ini, keluarga dan biksu sering melantunkan paritta atau doa Buddhis.

Doa-doa ini bertujuan untuk menenangkan batin almarhum sekaligus memberikan ketenangan dan penguatan batin bagi keluarga yang sedang berduka.

2. Pembacaan Paritta atau Sutra

Sebelum proses kremasi dilakukan, biksu akan membacakan paritta, sutra, atau chanting Buddhis. Pembacaan ini memiliki makna sebagai dukungan spiritual, bukan untuk menyelamatkan roh.

Dalam ajaran Buddha, setiap makhluk bertanggung jawab atas karmanya masing-masing. Paritta berfungsi untuk memancarkan energi kebajikan, menenangkan batin almarhum, serta menciptakan suasana damai bagi keluarga yang ditinggalkan agar dapat melepas kepergian orang tercinta dengan lebih ikhlas.

3. Prosesi Menuju Krematorium

Setelah rangkaian doa selesai, jenazah dibawa menuju krematorium. Prosesi ini biasanya berlangsung dengan suasana yang tenang, tertib, dan penuh rasa hormat. Tidak ada tuntutan untuk menunjukkan kesedihan secara berlebihan, karena umat

Buddha diajarkan untuk menerima kematian sebagai bagian alami dari kehidupan. Dalam beberapa budaya Buddhis, keluarga juga membawa persembahan sederhana seperti bunga atau dupa sebagai simbol penghormatan dan doa terakhir.

4. Proses Kremasi

Setibanya di krematorium, proses kremasi dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Selama proses pembakaran berlangsung, keluarga dapat memilih untuk bermeditasi singkat, melantunkan doa, atau berdiam diri dalam keheningan.

Momen ini sering dimanfaatkan untuk merenungkan ajaran tentang ketidakkekalan, melepaskan keterikatan duniawi, serta mendoakan agar almarhum mendapatkan kondisi batin yang baik sesuai dengan karmanya.

5. Pengambilan Abu Jenazah

Setelah proses kremasi selesai, abu jenazah dikumpulkan dan ditempatkan ke dalam guci. Selanjutnya, keluarga akan menentukan bagaimana abu tersebut diperlakukan. Ada yang memilih menyimpannya di vihara, menempatkannya di stupa, atau melarungkannya ke laut atau sungai sesuai tradisi dan peraturan setempat.

Dalam pandangan Buddhis, semua pilihan ini diperbolehkan selama dilakukan dengan niat yang baik, penuh penghormatan, dan tanpa keterikatan berlebihan pada jasad fisik.

Kamboja: Pendamping Terpercaya untuk Pengurusan Jenazah dan Pemakaman

Dapat disimpulkan bahwa kremasi dalam agama Buddha bukan hanya sekadar proses pemakaman, melainkan bagian dari perjalanan spiritual yang sarat makna tentang ketidakkekalan, pelepasan, dan penghormatan terakhir.

Setiap tahapan dijalani dengan tenang, sederhana, dan penuh kesadaran, baik oleh almarhum maupun keluarga yang ditinggalkan. Pemahaman ini diharapkan dapat membantu keluarga menjalani masa duka dengan lebih ikhlas dan tanpa terbebani dalam mengurus prosesi terakhir.

Untuk membantu keluarga yang sedang berduka, Kamboja hadir menyediakan jasa pengurusan jenazah dan jasa pemakaman yang profesional dan menyeluruh.

Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut atau ingin berkonsultasi, silakan hubungi WhatsApp Customer Service Kamboja di 082211111415 atau +62 815-1353-2488 untuk mendapatkan bantuan dengan cepat dan penuh empati.

Disclaimer: Kamboja tidak dapat menjamin kebenaran atau keakuratan data, tips maupun informasi yang tercantum di dalam artikel diatas. Mohon hubungi pihak terkait atau pun instansi yang berwenang jika anda memerlukan bantuan medis maupun administratif.

Artikel Lainnya

Kremasi Menurut Katolik: Pandangan Gereja Katolik Mengenai Proses Kremasi

permalink

Daftar Lengkap Banten yang Dipakai untuk Upacara Ngaben

permalink

Segala kebutuhan mereka
di saat kita telah tiada

Proses pemakaman merupakan sebuah beban yang kadang tidak terpikirkan. Dapatkan kemudahan bersama kami.
Proteksi Pemakaman Jasa Pemakaman
Rated Excellent 5.0/5.0