
Kehilangan orang tersayang adalah salah satu momen paling berat dalam hidup. Di tengah rasa duka, tidak sedikit keluarga yang mencari ketenangan melalui berbagai hal, termasuk bertanya-tanya apakah waktu seseorang meninggal memiliki makna khusus. Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul adalah, meninggal hari Kamis, pertanda baik atau bukan menurut Islam?
Untuk memahami hal ini, kita perlu melihatnya berdasarkan Al-Qur'an, hadis Nabi Muhammad SAW, dan penjelasan para ulama. Dengan begitu, kita tidak mudah mempercayai anggapan yang belum tentu memiliki dasar agama, sekaligus bisa lebih bijak dalam menyikapi kepergian orang tercinta.
Dalam Islam, tidak ada dalil sahih yang secara khusus menyebutkan bahwa meninggal pada hari Kamis merupakan pertanda seseorang mendapatkan akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah.
Hari Kamis memang memiliki beberapa keutamaan dalam Islam, terutama berkaitan dengan amalan tertentu. Namun, keutamaan suatu hari tidak otomatis berarti setiap orang yang meninggal pada hari tersebut mendapatkan keistimewaan yang sama.
Lalu, bagaimana dengan orang yang meninggal pada Kamis malam atau malam Jumat?
Dalam kalender Hijriah, pergantian hari dimulai sejak matahari terbenam. Artinya, Kamis setelah Magrib sudah memasuki malam Jumat. Ada hadis yang membahas keutamaan meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai kekuatan hadis tersebut.
Hal ini perlu dibedakan dengan anggapan bahwa semua orang yang meninggal pada hari Kamis pasti mendapatkan keutamaan tertentu. Tidak ada dasar yang cukup kuat untuk membuat kesimpulan seperti itu.
Jadi, jika seseorang meninggal pada Kamis pagi atau siang, kita tidak bisa langsung menyebutnya sebagai pertanda baik ataupun buruk. Begitu juga ketika seseorang meninggal pada Kamis malam yang sudah masuk malam Jumat.
Waktu kematian seseorang seperti meninggal di hari Sabtu bukan satu-satunya ukuran untuk menilai baik atau buruknya akhir kehidupan seseorang. Sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk mendoakan orang yang meninggal, memohonkan ampunan baginya, dan menyerahkan perkara yang tidak kita ketahui kepada Allah SWT.
Meskipun tidak ada dalil khusus yang menetapkan meninggal pada hari Kamis sebagai tanda husnul khatimah, hari Kamis tetap memiliki keutamaan dalam beberapa amalan yang diajarkan Rasulullah SAW.
Berikut penjelasannya:
Salah satu keutamaan hari Kamis adalah berkaitan dengan pengangkatan amal manusia kepada Allah SWT.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Amal-amal manusia diperiksa pada hari Senin dan Kamis."
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim, Kitab Puasa, nomor 2565 dalam penomoran yang umum digunakan, dalam pembahasan tentang amalan yang diperlihatkan kepada Allah.
Hadis tersebut menjelaskan bahwa Senin dan Kamis memiliki keistimewaan dalam kaitannya dengan amal perbuatan manusia.
Namun, perlu dipahami bahwa hadis ini membicarakan pengangkatan atau pemeriksaan amal, bukan keutamaan meninggal pada hari Kamis.
Dengan demikian, kita tidak bisa menjadikan hadis ini sebagai bukti bahwa orang yang meninggal pada hari Kamis otomatis memperoleh kedudukan lebih tinggi di sisi Allah.
Sebaliknya, hadis tersebut dapat menjadi pengingat bagi kita yang masih hidup untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan mempersiapkan diri menghadapi kematian kapan pun waktunya tiba.
Keutamaan lainnya adalah anjuran berpuasa pada hari Senin dan Kamis.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, ketika Rasulullah SAW ditanya tentang puasa pada hari Senin, beliau menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari kelahirannya dan hari ketika wahyu diturunkan kepadanya.
Sementara itu, terdapat riwayat lain yang menjelaskan bahwa amal manusia diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, dan Rasulullah SAW menyukai ketika amalnya diperlihatkan dalam keadaan berpuasa.
Hadis mengenai hal tersebut diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, di antaranya dalam Jami' at-Tirmidzi nomor 747.
Puasa Senin dan Kamis merupakan amalan sunah yang dapat dilakukan oleh umat Islam sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Akan tetapi, anjuran berpuasa pada hari Kamis tidak berarti bahwa seseorang yang meninggal pada hari tersebut pasti mendapatkan keutamaan khusus. Keduanya merupakan persoalan yang berbeda.
Keutamaan hari Kamis juga bisa menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus memperbaiki diri.
Kita tidak pernah mengetahui kapan ajal akan datang. Seseorang bisa meninggal pada hari Senin, Kamis, Jumat, atau hari lainnya. Karena itu, hal terpenting bukanlah menunggu hari tertentu, melainkan mempersiapkan kehidupan akhirat melalui iman, ibadah, dan perbuatan baik.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." (QS. Ali 'Imran: 185).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kematian merupakan kepastian bagi setiap makhluk hidup. Waktu dan tempatnya tidak selalu bisa diperkirakan manusia.
Karena itu, kita sebaiknya menggunakan waktu yang masih diberikan Allah untuk berbuat baik, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, menjaga silaturahmi, dan menjalankan kewajiban agama.
Pembahasan tentang meninggal pada hari Kamis sering dikaitkan dengan hadis mengenai keutamaan meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat.
Hadis ini penting dipahami karena Kamis malam setelah Magrib sudah termasuk malam Jumat dalam kalender Islam.
Berikut hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.
Dari Abdullah bin Amr RA, Rasulullah SAW bersabda:
"ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله فتنة القبر"
Artinya:
"Tidaklah seorang Muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan melindunginya dari fitnah kubur."
(HR. at-Tirmidzi, Jami' at-Tirmidzi nomor 1074).
Hadis ini dapat dibaca melalui Jami' at-Tirmidzi 1074.
Secara umum, hadis tersebut menyebutkan keutamaan bagi seorang Muslim yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, yaitu perlindungan dari fitnah kubur.
Fitnah kubur merujuk pada ujian yang dialami manusia di alam kubur. Dalam ajaran Islam, manusia akan menghadapi pertanyaan dan ujian setelah meninggal dunia.
Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan: status hadis ini diperselisihkan oleh para ulama.
Imam at-Tirmidzi sendiri menjelaskan bahwa hadis tersebut berstatus gharib dan sanadnya tidak bersambung. Dalam penjelasannya, terdapat persoalan mengenai hubungan periwayatan Rabi'ah bin Saif dengan Abdullah bin Amr RA.
Sebagian ulama menilai riwayat ini lemah karena persoalan sanadnya. Di sisi lain, ada ulama yang menerima atau menguatkannya melalui jalur periwayatan lain. Dalam penilaian Darussalam yang tercantum di Sunnah.com, hadis tersebut dinilai hasan.
Perbedaan penilaian ini menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak bisa dijelaskan seolah-olah seluruh ulama sepakat mengenai keabsahannya.
Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menjadikan hadis ini sebagai dasar untuk memastikan nasib seseorang di akhirat.
Apakah hadis tersebut membuktikan meninggal hari Kamis adalah pertanda baik? Jawabannya perlu dilihat dari waktu kematiannya.
Jika seseorang meninggal pada Kamis siang, waktu tersebut belum termasuk malam Jumat. Hadis di atas tidak secara khusus membahas Kamis siang.
Namun, jika seseorang meninggal setelah Magrib pada hari Kamis, waktu tersebut sudah masuk malam Jumat. Dengan demikian, orang tersebut termasuk dalam waktu yang disebutkan dalam hadis tersebut, apabila mengikuti pendapat yang menerima riwayat itu.
Meski begitu, kita tidak boleh langsung memastikan bahwa orang tersebut pasti terbebas dari seluruh ujian kubur atau pasti mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Penilaian terhadap hadis dan perkara gaib harus dilakukan dengan hati-hati.
Sikap yang lebih bijak adalah berharap Allah memberikan rahmat, ampunan, dan perlindungan kepada orang yang telah meninggal, tanpa membuat kepastian yang tidak didukung dalil yang kuat.
Ketika anggota keluarga meninggal pada hari Kamis, wajar jika keluarga mencari makna di balik waktu tersebut. Namun, dalam suasana duka, kita perlu mengutamakan sikap yang sesuai dengan tuntunan agama.
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan.
Doa merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti bagi orang yang telah meninggal dunia.
Keluarga dapat memohon agar Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal baiknya, melapangkan kuburnya, serta memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.
Tidak perlu menunggu hari tertentu untuk mendoakan orang yang telah meninggal. Doa dapat dipanjatkan kapan saja.
Dalam Islam, pengurusan jenazah Muslim merupakan kewajiban kolektif atau fardu kifayah.
Secara umum, kewajiban tersebut meliputi memandikan jenazah, mengafani, menyalatkan, dan menguburkannya sesuai ketentuan syariat.
Jika seseorang meninggal pada hari Kamis, keluarga tidak perlu menunda pengurusan jenazah hanya karena ingin menunggu hari Jumat dengan harapan mendapatkan keutamaan tertentu.
Pengurusan jenazah sebaiknya dilakukan dengan segera dan sesuai ketentuan yang berlaku, sambil mempertimbangkan kebutuhan administrasi, kondisi jenazah, dan situasi setempat.
Sama seperti tidak ada dasar yang kuat untuk menyebut meninggal hari Kamis sebagai pertanda pasti baik, kita juga tidak memiliki dasar untuk menganggap hari tersebut sebagai pertanda buruk.
Kematian adalah bagian dari ketetapan Allah SWT. Manusia tidak mengetahui seluruh hikmah di balik waktu kematian seseorang.
Karena itu, keluarga sebaiknya tidak terbebani oleh anggapan yang menimbulkan ketakutan atau rasa bersalah.
Setelah seseorang meninggal, keluarga dapat meneruskan kebaikan yang pernah dilakukan almarhum atau almarhumah, misalnya membantu orang yang membutuhkan, menjaga silaturahmi, atau menunaikan amanah yang masih tertinggal.
Dalam hadis riwayat Muslim nomor 1631, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.
Hadis ini mengingatkan kita tentang pentingnya amal yang manfaatnya terus berlanjut dan doa anak yang saleh bagi orang tuanya.
Dengan begitu, keluarga dapat menjadikan masa berduka sebagai kesempatan untuk memperbanyak doa dan meneruskan kebaikan, bukan sekadar mencari pertanda dari hari kematian.
Kehilangan anggota keluarga bukan hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga menghadirkan berbagai tanggung jawab yang perlu segera diselesaikan. Keluarga harus mengurus jenazah, menyiapkan pemakaman, mengurus dokumen administrasi, dan mengoordinasikan kebutuhan lainnya di tengah suasana duka.
Agar proses tersebut dapat berjalan lebih teratur, keluarga bisa mempertimbangkan bantuan dari penyedia jasa pemakaman profesional seperti Kamboja.co.id.
Jika membutuhkan bantuan, Anda dapat mengunjungi Kamboja.co.id – Jasa Pemakaman Muslim untuk mempelajari pilihan layanan yang tersedia.
Kamboja.co.id juga menyediakan hotline kedukaan 24 jam untuk laporan meninggal anggota Kamboja.co.id dan layanan kedukaan. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui nomor +62 822-1111-1415 .
Pada akhirnya, meninggal pada hari Rabu ataupun Kamis tidak perlu menjadi sumber kekhawatiran bagi keluarga. Hal terpenting adalah menerima ketetapan Allah dengan sabar, mendoakan almarhum atau almarhumah, serta memastikan hak-hak jenazah terpenuhi dengan baik.