
Dalam konteks jasa pemakaman di Bali, upacara Ngaben bukan sekadar prosesi pelepasan jenazah, tetapi merupakan ritual suci yang penuh makna spiritual. Salah satu elemen terpenting dalam upacara ini adalah banten atau seserahan. Inilah yang berfungsi sebagai sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya, leluhur, dan alam semesta.
Bagi banyak orang, istilah banten, jenis-jenisnya, dan fungsinya bisa terasa rumit. Nah, lewat artikel ini, kita akan membahas secara lengkap apa itu upacara Ngaben, apa itu banten, serta daftar lengkap banten yang digunakan dalam upacara Ngaben, lengkap dengan penjelasannya.
Upacara Ngaben adalah ritual pembakaran jenazah dalam agama Hindu Bali. Tujuan utama tata cara upacara Ngaben bukan sekadar mengantar orang meninggal, melainkan membebaskan roh dari ikatan duniawi agar dapat kembali ke asalnya dan melanjutkan perjalanan menuju alam yang lebih tinggi.
Dalam kepercayaan Hindu Bali, jasad manusia terdiri dari unsur Panca Maha Bhuta (tanah, air, api, udara, dan ether). Melalui Ngaben, unsur-unsur ini dikembalikan ke alam semesta secara harmonis, sementara atma dilepaskan dengan doa dan persembahan.
Ngaben juga menjadi bentuk bakti terakhir keluarga kepada almarhum, sekaligus wujud tanggung jawab spiritual agar roh tidak terikat di alam sekala (dunia nyata).
Banten adalah persembahan suci yang digunakan dalam setiap upacara adat dan keagamaan Hindu Bali, termasuk Ngaben. Banten bukan sekadar “sesaji”, tetapi sarana komunikasi spiritual antara manusia dengan Tuhan, leluhur, dan kekuatan alam.
Setiap banten memiliki:
Dalam upacara Ngaben, banten berperan sebagai:
Berikut adalah daftar lengkap banten yang umum digunakan dalam upacara Ngaben, meskipun jumlah dan jenisnya bisa berbeda tergantung desa adat, tingkatan upacara, dan kemampuan keluarga.
Ngaben mewangun bisa dibilang sebagai salah satu bentuk Ngaben yang lengkap. Pada jenis ini, tubuh manusia dianggap sebagai satu kesatuan “bangunan” (awangun), sehingga setiap bagian tubuh mendapatkan simbol dan sarana upacara tersendiri. Karena itulah, upacaranya cukup banyak dan kompleks.
Ngaben mewangun selalu disertai upacara pengaskaran, yaitu prosesi penyucian roh.
Ada dua jenis Pengabenan Mewangun:
Ini adalah Ngaben yang menggunakan jenazah asli (sawa atau watang matah). Seluruh rangkaian upacara dilakukan dengan kehadiran jasad, sehingga dianggap paling lengkap secara fisik.
Pada jenis ini tidak ada jenazah. Sebagai gantinya, dibuat simbol tubuh manusia dari kayu cendana yang digambar dan ditulisi aksara suci (aksara sangkan paran).
Istilah Nyawa Wedana berarti:
Jadi, Nyawa Wedana adalah Ngaben dengan wujud simbolis manusia, biasanya dilakukan jika jenazah tidak ada atau sudah lama meninggal.
Pengabenan Pranawa berfokus pada sembilan lubang utama pada tubuh manusia, yang dipercaya sebagai jalan keluar-masuk pengaruh baik dan buruk semasa hidup.
Kata Pranawa berasal dari:
Kesembilan lubang ini diyakini bisa membawa manusia pada kebaikan atau justru pada dosa, tergantung perilaku semasa hidup:
Karena dianggap sangat penting, Pengabenan Pranawa selalu disertai pengaskaran.
Menggunakan jenazah atau watang matah.
Bisa dengan jenazah atau hanya simbol (adegan). Simbol tubuh dibuat dari anyaman khusus dan disertai pengaskaran.
Mirip Kusa Pranawa, tetapi simbolnya berisi air suci (toya) sebagai lambang penyucian. Tetap menggunakan pengaskaran.
Versi lebih sederhana. Pengaskaran dilakukan secara nista (sederhana) di setra. Banyak perlengkapan Ngaben besar tidak digunakan. Fokusnya pada pembakaran dan pelepasan roh.
Bisa dilakukan di rumah atau langsung di setra. Tidak memakai bale paga saat mengusung jenazah. Ada juga versi mapendem (dikubur), bukan dibakar.
Pengabenan Swastha adalah Ngaben sederhana dengan tingkat paling kecil karena tidak menggunakan pengaskaran. Artinya, banyak perlengkapan Ngaben besar tidak dipakai.
Yang digunakan biasanya hanya:
Makna kata Swastha:
Artinya, Ngaben ini kembali ke inti, sederhana tapi tetap bermakna luhur.
Jenis-Jenis Pengabenan Swastha terbagi menjadi:
Jenazah dibakar (atau tanpa jenazah). Setelah itu dibuat sekah tunggal, dilakukan upacara pengiriman dan nganyut. Setelah selesai, rangkaian upacara berakhir.
Tidak dibakar, tetapi dikubur. Semua prosesi dilakukan di atas bambang (tempat penguburan). Tidak ada nganyut, tetapi ritual penyucian tetap dilakukan seperti Ngaben biasa.
Diperuntukkan bagi umat Hindu yang gugur di medan perang. Tidak menggunakan pengaskaran, hanya ngentas dan pengiriman. Tata caranya mirip Swastha Geni.
Sebenarnya, ngelanus bukan jenis Ngaben, melainkan cara mempercepat proses Ngaben. Ada dua bentuk yaitu:
a. Ngelanus Tandang Mantri
Semua prosesi Ngaben dan pemukuran diselesaikan dalam satu hari. Khusus untuk wiku atau sulinggih, tidak untuk umat biasa (walaka).
b. Ngelanus Tumandang Mantri
Dilakukan untuk umat walaka, biasanya selesai dalam satu hingga dua hari. Jumlah dan jenis upakaranya menyesuaikan kemampuan keluarga.
Tidak selalu. Jenis dan jumlah banten dalam upacara Ngaben sangat bergantung pada:
Yang terpenting bukan kemewahan banten, tetapi ketulusan niat dan doa yang menyertainya.
Kamboja hadir sebagai solusi terpercaya dalam menyediakan jasa pengurusan jenazah dan jasa pemakaman yang menyeluruh, sehingga keluarga tidak perlu repot mengurus berbagai hal teknis, termasuk proses pengiriman jenazah yang seringkali membutuhkan penanganan khusus.
Mulai dari pengurusan administrasi, koordinasi pemakaman, hingga pendampingan selama proses berlangsung, semuanya ditangani secara profesional dan penuh empati. Untuk informasi layanan lebih lengkap, silakan kunjungi halaman jasa pengurusan jenazah.
Apabila Anda membutuhkan bantuan atau ingin berkonsultasi lebih lanjut, jangan ragu menghubungi WhatsApp Customer Service Kamboja di nomor 082211111415 atau +62 815-1353-2488. Kami siap membantu Anda di saat yang paling dibutuhkan.