Upacara pemakaman antara agama satu dengan agama yang lainnya memang berbeda, termasuk agama Hindu. Namun, agama Hindu dikenal sebagai agama yang menyerap budaya lokal dimana penganutnya berada. Hal itulah yang membuat tata cara pemakaman Hindu berbeda-beda.

Agar pembahasan tidak ke mana-mana, maka pembahasan kali ini akan difokuskan pada upacara pemakaman agama Hindu di Bali. Hal ini karena Hindu Bali di Indonesia menjadi mayoritas dibandingkan dengan Hindu lainnya di Indonesia.

Tata Cara Pemakaman Hindu Bali di Indonesia

Upacara Ngaben memang sifatnya wajib dalam agama Hindu Bali. Namun, rupanya upacara pembakaran jenazah ini memakan biaya yang cukup banyak, sehingga akan memberatkan jika keluarga yang ditinggalkan jenazah adalah orang yang tidak mampu.

Oleh sebab itu, di Bali ada upacara Ngaben Massal. Upacara ini dilakukan agar biaya yang dikeluarkan lebih sedikit karena dilakukan secara bersama-sama dengan keluarga jenazah yang lainnya.

Lalu, bagaimana jenazah menunggu upacara Ngaben Massal? Karena kita tahu pasti tidak semua orang meninggal secara bersamaan. Jawabannya adalah “dititipkan” terlebih dahulu, yakni dikubur terlebih dahulu sampai tiba saatnya mengikuti Ngaben Massal.

Dalam upacara Ngaben akan dilakukan beberapa rangkaian ritual, yaitu:

  1. Ngulapin

Kata ‘ngulapin’ yang diambil dari bahasa Jawa Kuno berasal dari kata ‘ulap’ yang artinya adalah silau. Upacara yang satu ini umumnya akan dilaksanakan jika jenazah yang meninggal adalah korban kecelakaan atau meninggal karena sebab yang tidak alamiah.

Upacara tersebut akan dilakukan di lokasi terjadinya kecelakaan tempat jenazah meninggal. Rangkaian upacara Ngaben yang satu ini memiliki makna sebagai pengembalian “Bayu” atau sesuatu yang sifatnya batin yang tertinggal pada saat kejadian tersebut berlangsung.

Singkatnya, pada saat seseorang mengalami kecelakaan dan rohnya terlepas ia akan tertinggal di tempat tersebut. Maka jika tidak dilaksanakan upacara Ngulapin ini, umat Hindu Bali percaya bahwa dikhawatirkan atma atau roh orang tersebut tidak bisa pulang atau bingung.

  1. Nyiramin

Seperti upacara pemakaman pada umumnya, jenazah yang sudah meninggal akan dimandikan terlebih dahulu untuk mengembalikan kesuciannya. Begitu juga dalam upacara Ngaben, sebelum jenazah dikembalikan ke Yang Kuasa maka akan terlebih dahulu dimandikan melalui ritual Nyiramin.

Ritual ini dilakukan di rumah keluarga jenazah yang telah meninggal.

  1. Ngajum Kajang

Setiap daerah di Bali memiliki perbedaan pelaksanaan ritual Ngajum Kajang. Meskipun begitu prosesi ini memiliki makna yang sama, yaitu memantapkan atau mengikhlaskan hati pada kepergian mendiang yang dilakukan oleh para kerabatnya.

  1. Ngaskara

Setelah prosesi Ngajum Kajang dilaksanakan, selanjutnya akan dilakukan prosesi Ngaskara. Prosesi ini dilakukan oleh pendeta atau pemangku adat setempat maupun orang yang sudah diberi mandat.

Tujuan prosesi ini adalah untuk menyucikan roh agar dapat “menyatu” dengan Tuhannya. Selain itu, prosesi ini juga bermakna untuk “menuntun” anggota keluarga besar mendiang.

  1. Memeras

Prosesi Memeras dalam tata cara pemakaman Hindu ini sifatnya tidak harus, karena memang ada yang melaksanakannya ada juga yang tidak. Hal ini mungkin dikarenakan ritual ini hanya dilakukan jika mendiang telah memiliki cucu.

Umat Hindu Bali percaya bahwa jika seseorang sudah memiliki cucu itu artinya ia sudah berhasil melaksanakan kewajibannya sebagai manusia.

  1. Pepegatan

Dalam bahasa Jawa, kata ‘pegat’ artinya putus. Adapun upacara Pepegatan ini memiliki makna sebagai bentuk pemutusan ikatan antara mendiang dengan ikatan duniawinya semasa hidup.

  1. Pakiriman Ngutang

Keenam rangkaian sebelumnya dilakukan di rumah keluarga mendiang. Jika rangkaian-rangkaian tersebut sudah selesai, selanjutnya akan dilaksanakan kegiatan Pakiriman Ngutang. Jenazah akan diarak menggunakan wadah bade / jenazah ke setra atau kuburan Bali.

  1. Ngising

Setelah jenazah diarak dan sampai di setra, selanjutnya akan disiapkan wadah pembakaran jenazah sebelum akhirnya dibakar di acara puncak. Dalam prosesi ini keluarga mendiang akan membawakan “bekal” pada jenazah yang dapat berupa uang, barang kesukaannya, serta barang yang diwasiatkan.

Nantinya semua barang tersebut akan dibakar bersama dengan jasad mendiang dalam upacara puncaknya.

  1. Nganyud

Setelah upacara pembakaran dilaksanakan dan jenazah sudah menjadi abu, prosesi selanjutnya akan dilaksanakan upacara Nganyud. Abu kremasi atau Ngaben tersebut akan dimasukkan ke dalam Bungkak atau buah kelapa gading.

Kelapa gading yang berisi abu jenazah tersebut selanjutnya akan dihanyutkan ke sumber air yang sudah ditentukan, seperti di sungai atau laut.

  1. Mekelud

Setelah prosesi pembakaran dan penghanyutan abu jenazah dilakukan, selanjutnya akan dilakukan prosesi Mekelud selama 12 hari. Prosesi ini memiliki tujuan sebagai penyucian anggota keluarga serta melepas energi negatif dari perasaan duka atas meninggalnya jenazah.

Jenis-Jenis Upacara Ngaben

Seperti yang sebagian besar orang ketahui bahwa masyarakat Bali akan melakukan upacara yang disebut Ngaben saat ada orang yang meninggal. Upacara ini menjadi simbol bahwa manusia yang sudah mati harus ‘dilepaskan’ dari ikatan duniawi.

Selain itu, upacara ini juga menjadi simbol agar keluarga yang ditinggalkan dapat menerima dan ikhlas akan kepergian mendiang. Dengan begitu, setelah upacara ini selesai tidak akan ada lagi kesedihan dan air mata keluarga maupun kerabat mendiang.

Adapun tujuan upacara Ngaben ini ada tiga, yaitu:

  • Menyucikan roh umat Hindu yang telah meninggalkan dunia.
  • Mengembalikan Panca Maha Bhuta, yaitu mengembalikan unsur yang membentuk jasad manusia.
  • Mengembalikan kerelaan keluarga atas kepergian mendiang.

Sesuai dengan kebijakan adat secara turun-temurun maupun kemampuan keluarga yang ditinggalkan mendiang, upacara Ngaben memiliki jenis yang berbeda. Dalam agama Hindu masih mengenal kasta, jadi secara umum jenis Ngaben ini dibagi berdasarkan kasta tersebut.

Berikut beberapa jenis upacara Ngaben yang ada di Bali.

  1. Ngaben Sawa Wedana

Upacara Ngaben Sawa Wedana dilakukan secara langsung saat jenazah masih utuh dan baru meninggal, tepatnya 3 – 7 hari setelah ia meninggal.
Karena tidak melalui proses penguburan terlebih dahulu, maka jenazah akan diawetkan terlebih dahulu dan diperlakukan seperti orang yang sedang tidur.

  1. Ngaben Asti Wedana

Berbeda dengan Sawa Wedana, upacara Ngaben Asti Wedana ini melibatkan jenazah yang sudah lama meninggal, bahkan sudah berupa tulang-belulang. Oleh sebab itu upacara ini bisa diikuti jenazah yang sudah pernah dikubur.

  1. Swasta

Banyak kejadian yang membuat jenazah tidak bisa ditemukan, seperti hanyut, terbakar, meninggal di luar negeri, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, keluarga mendiang dapat melaksanakan tradisi Swasta ini yang tidak akan melibatkan jenazah secara langsung.

Jenazah akan digantikan oleh kayu cendana yang kemudian dilukis dan diisi dengan aksara yang bersifat magis.

  1. Ngelungah

Beda usia, beda lagi tata cara pemakaman Hindu yang dilakukan. Jika jenazah yang meninggal adalah anak yang giginya masih belum tanggal, maka dapat dilakukan dengan upacara Ngelungah.

  1. Warak Kruron

Ibu yang mengalami keguguran saat kehamilan, maka akan dilaksanakan upacara Warak Kruron untuk janin yang meninggal.

Beberapa tata cara pemakaman Hindu di atas mungkin agak berbeda di tempat Anda, karena seperti yang telah disinggung sebelumnya, agama Hindu akan melekat erat dengan kebudayaan setempat di mana Anda tinggal.

Artikel Lainnya

Mengenal Hukum Waris yang Berlaku di Indonesia

7 Tempat Pemakaman Termahal Di Indonesia, Elit dan Bertaraf Internasional

Segala kebutuhan mereka
di saat kita telah tiada

Proses pemakaman merupakan sebuah beban yang kadang tidak terpikirkan. Dapatkan kemudahan bersama kami.
Proteksi Pemakaman Jasa Pemakaman