Setiap budaya punya caranya sendiri untuk mengenang dan menghormati orang-orang tercinta yang telah lebih dulu berpulang. Ada yang dilakukan dengan doa bersama, ada yang lewat upacara adat, dan ada juga yang menjadi tradisi turun-temurun selama ratusan bahkan ribuan tahun. Bagi masyarakat Tionghoa, momen penuh makna itu dikenal dengan sebutan cheng beng. 

Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, tapi juga waktu khusus untuk berkumpul bersama keluarga, mengenang leluhur, dan mempererat hubungan antar generasi. Di balik suasana yang terlihat sederhana, tersimpan nilai sejarah, budaya, dan penghormatan yang sangat dalam.

Apa Itu Cheng Beng?

Cheng Beng atau juga dikenal sebagai Qing Ming (yang berarti “jernih dan terang”) adalah salah satu festival tradisional yang sudah dikenal sejak zaman Tiongkok kuno. Konon, tradisi ini sudah ada lebih dari 4.000 tahun lalu dan terus diwariskan dari generasi ke generasi sampai sekarang.

Tidak heran kalau cheng beng jadi salah satu momen penting dalam budaya Tionghoa. Festival ini punya beberapa sebutan lain, seperti hari menyapu kuburan, hari ziarah kubur, hari peringatan musim semi, hingga hari raya makanan dingin. Nama-nama tersebut menggambarkan kegiatan utama yang dilakukan saat perayaan ini berlangsung.

Biasanya, pada hari cheng beng, keluarga akan datang ke makam leluhur untuk membersihkan area kuburan, berdoa, dan memberikan penghormatan. Setelah itu, suasananya tidak selalu sedih, justru sering jadi momen kebersamaan.

Banyak orang juga memanfaatkan hari ini untuk bertamasya, jalan-jalan keliling kota, mengunjungi danau, bermain layang-layang, makan telur, bahkan menikmati arak bersama keluarga.

Sejarah Cheng Beng

Sejarah Cheng Beng atau Qingming tidak lepas dari dua kisah penting dalam budaya Tionghoa. Salah satunya adalah cerita tentang Jie Zhitui dan Putra Mahkota Chong Er dari Dinasti Jin. Saat Chong Er diasingkan dan hidup dalam pelarian, Jie Zhitui menunjukkan kesetiaan luar biasa dengan berkorban demi tuannya.

Setelah Chong Er berhasil kembali menjadi raja, ia ingin membalas budi, tetapi Jie memilih hidup sederhana di gunung bersama ibunya. Tragisnya, Jie ditemukan meninggal setelah hutan dibakar untuk mencarinya.

Untuk mengenang kesetiaannya, hari itu diperingati sebagai Hanshi atau Hari Makanan Dingin, di mana orang tidak menyalakan api untuk memasak. Kemudian pada tahun 732, Kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang menetapkan bahwa penghormatan leluhur cukup dilakukan pada hari Qingming saja, agar masyarakat tidak terbebani upacara yang terlalu sering dan mahal.

Seiring waktu, pada masa Dinasti Qing, peringatan Hanshi digabung dengan Qingming. Tradisi inilah yang akhirnya dikenal luas sebagai Cheng Beng dan tetap dirayakan hingga sekarang sebagai momen penting untuk menghormati leluhur dan berkumpul bersama keluarga.

Apa Saja yang Dilakukan Saat Cheng Beng?

Saat cheng beng tiba, suasananya biasanya terasa khidmat tapi juga hangat karena seluruh keluarga berkumpul. Tradisi ini bukan cuma soal ziarah, tapi juga bentuk bakti dan penghormatan kepada leluhur. Nah, berikut beberapa hal yang biasanya dilakukan saat perayaan cheng beng:

1. Pulang Kampung & Ziarah Makam

Banyak keluarga Tionghoa akan pulang ke kampung halaman khusus untuk cheng beng. Mereka datang ke makam leluhur sebagai bentuk bakti dan rasa hormat. Ini jadi momen penting karena seluruh anggota keluarga biasanya hadir bersama.

2. Membersihkan & Merapikan Makam

Setibanya di makam, hal pertama yang dilakukan adalah membersihkan area kuburan.

Rumput liar dicabut, batu nisan dibersihkan, dan makam dirapikan agar terlihat bersih dan layak. Tindakan ini melambangkan kepedulian dan cinta kepada leluhur.

3. Menyiapkan Persembahan

Beberapa hari sebelum cheng beng, keluarga sudah mulai menyiapkan perlengkapan seperti dupa (hio), lilin, kertas sembahyang, buah-buahan, hingga makanan favorit leluhur.

Semua disiapkan dengan penuh perhatian karena dipercaya sebagai bentuk pelayanan kepada arwah keluarga yang telah tiada.

4. Menyalakan Lilin & Dupa

Lilin (lak cek) dinyalakan sebagai simbol penerangan bagi arwah, sedangkan dupa (hio) dibakar sebagai tanda penghormatan dan doa.

5. Membakar Kertas Sembahyang (Kim Ci)

Dalam prosesi ini, keluarga membawa kim ci, yaitu kertas sembahyang dan uang-uangan dari kertas.

Kertas ini dibakar sebagai simbol bekal bagi leluhur di alam baka. Ada juga Kimcua (uang emas) dan Gincua (uang perak) yang dipercaya bisa digunakan oleh arwah untuk memenuhi kebutuhannya di sana.

6. Membawa atau Menggunakan Tempat Dupa

Beberapa keluarga membawa hiolo (tempat dupa) dari rumah, meski kini banyak makam sudah menyediakan tempatnya.

7. Prosesi Sembahyang

Dalam prosesi ini, keluarga membawa kim ci, yaitu kertas sembahyang dan uang-uangan dari kertas.

Kertas ini dibakar sebagai simbol bekal bagi leluhur di alam baka. Ada juga Kimcua (uang emas) dan Gincua (uang perak) yang dipercaya bisa digunakan oleh arwah untuk memenuhi kebutuhannya di sana.

8. Memanjatkan Doa

Doa biasanya berisi harapan akan kesehatan, rezeki, kesejahteraan, serta agar leluhur tetap melindungi keluarga.

9. Membakar Replika Barang

Barang-barang kertas seperti baju, rumah, mobil, hingga TV dibakar sebagai simbol kebutuhan leluhur di kehidupan setelah mati.

10. Berpamitan

Ritual ditutup dengan berpamitan di depan makam, sebagai tanda bahwa keluarga selesai berkunjung dan berharap leluhur berkenan menjaga mereka.

Makna Cheng Beng

Di balik semua ritual dan tradisinya, cheng beng punya makna yang sangat dalam. Ini bukan sekadar ziarah kubur, tapi bentuk nyata rasa bakti, hormat, dan cinta kepada leluhur. Tradisi ini mengajarkan bahwa kita tidak pernah lepas dari akar keluarga dan sejarah yang membentuk siapa diri kita hari ini.

Cheng beng juga jadi momen untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga. Di tengah kesibukan masing-masing, hari ini jadi waktu khusus untuk berkumpul, mengenang, dan saling menguatkan.

Jadi, maknanya bukan hanya tentang mereka yang telah tiada, tapi juga tentang menjaga nilai kekeluargaan dan kebersamaan yang tetap hidup sampai sekarang.

Luangkan Waktu untuk Memperkuat Ikatan Keluarga!

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Cheng Beng mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, mengenang asal-usul, dan mempererat hubungan keluarga. Karena pada akhirnya, menghormati mereka yang telah tiada adalah cara kita menjaga akar dan identitas keluarga tetap hidup.

Dalam momen duka yang berat, keluarga tentu butuh ketenangan tanpa harus direpotkan urusan teknis. Kamboja hadir sebagai penyedia jasa pemakaman dan jasa pengurusan jenazah yang profesional, mulai dari proses penguburan hingga kremasi, semuanya ditangani dengan rapi dan penuh empati.

Bahkan detail seperti penataan makam hingga rekomendasi jenis tanaman kuburan pun bisa dibantu agar tempat peristirahatan terlihat indah dan terawat. Jadi, keluarga bisa fokus berdoa dan saling menguatkan tanpa pusing memikirkan logistik. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WhatsApp +6282211111415.

Disclaimer: Kamboja tidak dapat menjamin kebenaran atau keakuratan data, tips maupun informasi yang tercantum di dalam artikel diatas. Mohon hubungi pihak terkait atau pun instansi yang berwenang jika anda memerlukan bantuan medis maupun administratif.

Artikel Lainnya

Kamboja: Penyedia Jasa Pemakaman Hewan Terlengkap

permalink

Takziah: Hukum, Makna dan Tujuan dalam Agama Islam

permalink

Segala kebutuhan mereka
di saat kita telah tiada

Proses pemakaman merupakan sebuah beban yang kadang tidak terpikirkan. Dapatkan kemudahan bersama kami.
Proteksi Pemakaman Jasa Pemakaman
Rated Excellent 5.0/5.0