Upacara kematian di Indonesia sangat beragam, termasuk pada etnis Tionghoa. Keduanya masih memegang kuat tradisi leluhur, sehingga prosesi pemakamannya lebih kompleks daripada agama lain. Oleh karena itu, tak jarang layanan jasa pemakaman bisa membantu meringankan keluarga saat berduka.

Keunikan Prosesi Pemakaman Konghucu

Sejak zaman kolonial, tradisi pemakaman etnis Tionghoa menjadi indikator stratifikasi sosial seseorang. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin kompleks proses pemakamannya. Namun, seiring berjalannya waktu, upacara kematian ini mengalami penyesuaian, terlebih setelah melalui masa ekonomi sulit beberapa dekade lalu.

1. Persiapan Pemakaman

Persiapan pemakaman Tionghoa dimulai dari proses memandikan jenazah menggunakan kembang lima rupa, arak, dan memakaikan pakaian terbaik semasa hidupnya. Bahkan, ada juga jenazah yang mengenakan pakaian pengantin.

Jenazah berusia 80 tahun ke atas akan diberi penutup menyerupai kain kafan berwarna merah. Penggunaan warna merah relatif jarang karena melambangkan kegembiraan. Akan tetapi, hal tersebut menjadi pengecualian bagi mendiang yang telah berusia di atas 80 tahun sebagai simbol pencapaian hidup yang berhasil melahirkan banyak generasi.

Beberapa keluarga juga bisa memberikan mutiara pada tujuh lubang di kepala mendiang, yaitu lubang hidung, mulut, mata, dan mulut. Sementara untuk keluarga ekonomi menengah ke bawah, mutiara bisa diganti dengan kapas.

Sebagian besar pakaian milik jenazah didonasikan ke orang yang membutuhkan atau diambil oleh pihak keluarga apabila mendapat izin. Di atas badan jenazah juga diberi cermin pecah yang menjadi pertanda bahwa kehidupan di dunia telah berakhir.

2. Persiapan ke Liang Lahat

Masyarakat Tionghoa menengah ke atas seringkali menggunakan jasa pemakaman dan jasa pengurusan jenazah untuk meringankan beban keluarga. Salah satunya menyiapkan lokasi pemakaman yang layak sekaligus mengurus seluruh kebutuhan.

Dalam tradisi Tionghoa, jenazah perlu dirias dan dimasukkan peti mati sebelum dikuburkan. Keluarga menyiapkan segala kebutuhan jenazah, terutama pakaian lengkap beserta sarung tangan dan sepatu. Mereka juga membakar kertas perak yang berguna sebagai bantalan pada peti jenazah.

Secara bergantian, anggota keluarga duduk di samping jenazah sembari membakar kertas perak di dalam baskom pembakaran. Kertas perak tersebut dipercaya sebagai uang di dunia arwah.

3. Upacara Tutup Peti

Dalam tradisi Tionghoa, penutupan peti tidak begitu saja terjadi tanpa adanya prosesi. Upacara yang dipimpin Sai Kong (Tekong) akan menentukan tanggal baik kapan prosesi tutup peti dan pemakaman bisa dimulai.

Di dasar peti, terdapat tujuh keping logam yang melambangkan tujuh rasi bintang, lalu taburan daun teh sambil mengucapkan “Le tho, pe tho, cheng tho, hoat cai” sebanyak tiga kali. Sebelum penutupan peti, keluarga membakar hio, berlutut, mengelilingi peti, dan menaburkan minyak wangi sebagai penghormatan terakhir.

Anak-anak mendiang kemudian memasang tujuh mutiara atau kapas pada lubang tubuh sebagai komitmen anak dalam menjaga keharmonisan keluarga serta kesabaran menerima kepergian mendiang.

Setelah itu, Sai Kong meminta putra sulung atau menantu sulung mendiang untuk memukul empat paku di sudut peti searah jarum jam. Pemukulan paku ini dipercaya membawa keberkahan, kekayaan, keberuntungan, dan menjauhkan keluarga dari musibah.

4. Prosesi Sembahyang

Setelah tutup peti, sembahyang dilakukan menggunakan meja altar yang berisi foto mendiang, lilin, hio, dan hiolo. Anak sulung menyalakan lilin putih dan membakar hio bergagang hijau. Uniknya, dupa tidak boleh putus, sehingga harus disambung sebelum habis.

Pihak keluarga menyiapkan persembahan makanan meliputi sam sheng (daging babi, ayam utuh, dan ikan bandeng), kue manis berwarna cerah tanpa ketan, batang tebu, manisan, serta buah-buahan seperti apel, pisang, dan jeruk.

Keluarga mengenakan baju toaha yang terbuat dari kain blacu atau karung goni dengan cara terbalik sebagai tanda duka. Di kota besar, pakaian duka diganti kaos putih yang nantinya perlu dicuci dan dijemur di bawah matahari setelah acara untuk menolak hal buruk.

Lampu Ten Lung dipasang di pintu rumah duka dan dekat peti tersedia tempat pembakaran kertas perak. Anak-anak mendiang bisa duduk sembari membakar kertas perak. Bila ada tamu datang, mereka mendapat 2 batang hio agar bisa ikut sembahyang. Jika tidak, mereka cukup sungkem atau pai tangan.

5. Persemayaman Jenazah

Persemayaman jenazah biasanya menjadi tahap yang paling melelahkan bagi keluarga, sehingga tak heran jasa pemakaman sangat membantu dalam menyiapkan segala kebutuhan. Pasalnya, dalam adat Tionghoa, jenazah tidak langsung diberangkatkan setelah tutup peti dan sembahyang.

Keluarga biasanya menunggu beberapa hari agar kerabat yang tinggal jauh dapat datang dan memberi penghormatan terakhir. Pihak keluarga begadang secara bergiliran menjaga jenazah dan melayani para tamu yang melayat selama berhari-hari. Para tamu pun memberikan amplop sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga yang sedang berduka.

6. Pemakaman Jenazah

Prosesi pemakaman berlangsung dengan putra sulung membawa foto mendiang beserta sebatang hio besar yang menyala. Menjelang keberangkatan, Tekong memecahkan sebuah semangka besar sebagai petanda dunia almarhum berakhir di sini.

Ada juga tradisi mengetuk peti jenazah tiga kali dengan sebilah kayu sebelum pemakaman sebagai tanda bahwa pihak keluarga  sudah melepas kepergian jenazah. Setelah itu, keluarga mengantarkan mendiang ke tempat peristirahatan terakhir menggunakan mobil jenazah.

Sementara Tekong biasanya ikut dalam mobil untuk sesekali menebar kertas perak di sepanjang jalan. Dalam tahap ini, perlunya memakai jasa pemakaman agar prosesnya tertib.

Sesampainya di pemakaman, prosesi sembahyang dilakukan. Putra sulung bersembahyang pada Dewa Tanah menggunakan hio bergagang merah sebanyak 3 batang demi kelancaran prosesi.

Tekong turun ke liang lahat untuk memasang empat keping uang logam di dasar sebagai pijakan peti. Setelah itu, ia membelah kelapa yang airnya diminum keluarga, lalu ditutup dengan tabur tanah dan bunga.

Gunakan Layanan Jasa Pemakaman Konghucu

Proses pemakaman etnis Tionghoa memiliki keunikan dan kompleksitas yang sarat akan nilai luhur. Oleh karena itu, agar semua prosesi berjalan lancar dan tertib, gunakan layanan jasa pemakaman Konghucu dari Kamboja.

Dengan sistem terintegrasi, layanan Kamboja membantu meringankan beban keluarga, mulai dari mengurus administrasi, mengurus jenazah, pemakaman, dan menyiapkan kebutuhan konsumsi tamu. Kamboja siap mendampingi Anda dan keluarga dalam menghadapi masa-masa sulit dengan proteksi lengkap dan terpercaya.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat mengunjungi website Kamboja atau langsung menghubungi layanan pelanggan melalui WhatsApp CS 1: +6282277131415 atau CS 2: +6281513532488.

Disclaimer: Kamboja tidak dapat menjamin kebenaran atau keakuratan data, tips maupun informasi yang tercantum di dalam artikel diatas. Mohon hubungi pihak terkait atau pun instansi yang berwenang jika anda memerlukan bantuan medis maupun administratif.

Artikel Lainnya

Proteksi Kedukaan Sejahtera: Asuransi Pemakaman untuk Pekerja

permalink

Perbedaan Paket Asuransi Pemakaman Kamboja, Pilih Mana?

permalink

Segala kebutuhan mereka
di saat kita telah tiada

Proses pemakaman merupakan sebuah beban yang kadang tidak terpikirkan. Dapatkan kemudahan bersama kami.
Proteksi Pemakaman Jasa Pemakaman
Rated Excellent 5.0/5.0