
Pantangan orang meninggal Tionghoa masih dipercaya dan dijalankan oleh banyak keluarga hingga sekarang. Dalam budaya Tionghoa, prosesi kematian bukan hanya tentang melepas orang tercinta, tetapi juga bentuk penghormatan terakhir agar arwah dapat pergi dengan tenang dan keluarga yang ditinggalkan tetap mendapat keberuntungan serta perlindungan.
Karena itulah, ada banyak aturan, tradisi, hingga larangan tertentu yang biasanya dilakukan saat ada anggota keluarga meninggal. Sebagian mungkin terdengar unik bagi orang yang belum familiar, tetapi semua pantangan tersebut sebenarnya memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan penghormatan, spiritualitas, hingga simbol keberuntungan.
Lalu, apa saja pantangan orang meninggal Tionghoa yang masih dipercaya sampai sekarang? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Dalam budaya Tionghoa, kematian dianggap sebagai perpindahan menuju kehidupan lain. Karena itu, proses pemakaman dan penghormatan kepada orang yang meninggal dilakukan dengan penuh perhatian.
Tradisi ini juga dipengaruhi oleh ajaran Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme yang menekankan pentingnya menghormati leluhur. Banyak keluarga percaya bahwa jika prosesi kematian dilakukan dengan benar, maka arwah akan tenang dan keluarga yang ditinggalkan bisa terhindar dari kesialan.
Sebaliknya, jika ada aturan yang dilanggar, dipercaya bisa membawa energi buruk atau ketidakharmonisan dalam keluarga.
Pantangan orang meninggal Tionghoa bukan sekadar mitos atau tradisi turun-temurun tanpa makna. Di balik berbagai larangan tersebut, tersimpan nilai hormatnya tersendiri. Berikut beberapa pantangan orang meninggal Tionghua yang perlu diketahui:
Salah satu pantangan paling umum adalah memakai pakaian berwarna terang seperti merah, kuning cerah, atau warna mencolok lainnya saat melayat.
Dalam budaya Tionghoa, warna merah melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan perayaan. Karena itu, warna merah dianggap tidak pantas digunakan dalam suasana duka.
Biasanya pelayat dianjurkan memakai pakaian warna hitam, putih, abu-abu, atau warna gelap lainnya sebagai simbol rasa hormat dan belasungkawa.
Keluarga inti yang sedang berkabung biasanya menghindari mengadakan pesta, pernikahan, ulang tahun, atau perayaan besar dalam jangka waktu tertentu.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada anggota keluarga yang meninggal. Dalam beberapa keluarga Tionghoa tradisional, masa berkabung bahkan bisa berlangsung hingga 49 hari atau lebih.
Maknanya adalah agar keluarga benar-benar fokus mendoakan dan menghormati orang yang telah berpulang.
Di beberapa tradisi Tionghoa, anggota keluarga inti tidak dianjurkan memotong rambut selama masa berkabung.
Rambut dianggap sebagai simbol warisan dari orang tua dan leluhur. Tidak memotong rambut menjadi bentuk penghormatan serta tanda kesedihan mendalam atas kehilangan anggota keluarga.
Meski sekarang aturan ini tidak selalu diterapkan secara ketat, beberapa keluarga tradisional masih menjalankannya.
Saat melayat atau mengikuti prosesi pemakaman, penggunaan perhiasan mencolok dianggap kurang sopan.
Budaya Tionghoa sangat menekankan kesederhanaan dalam suasana duka. Mengenakan emas atau aksesori berlebihan dikhawatirkan menunjukkan kurangnya empati kepada keluarga yang berduka.
Karena itu, banyak orang memilih tampil sederhana selama proses pemakaman berlangsung.
Meski menangis adalah hal wajar saat kehilangan orang tercinta, dalam beberapa kepercayaan Tionghoa tangisan yang terlalu histeris dipercaya dapat membuat arwah sulit pergi dengan tenang.
Karena itu, keluarga biasanya dianjurkan untuk tetap tabah dan tidak terus-menerus meratap di depan jenazah.
Makna di balik pantangan ini adalah agar perjalanan arwah menuju alam berikutnya tidak terhambat oleh kesedihan keluarga yang ditinggalkan.
Dalam beberapa tradisi Tionghoa, ibu hamil dipercaya lebih sensitif terhadap energi negatif sehingga tidak disarankan menghadiri prosesi pemakaman.
Hal ini dilakukan untuk menjaga keselamatan ibu dan bayi. Bahkan ada keluarga yang percaya energi duka dapat memengaruhi kondisi kehamilan.
Namun saat ini, penerapannya sudah lebih fleksibel tergantung kepercayaan masing-masing keluarga.
Selain ibu hamil, bayi dan anak kecil juga sering tidak dianjurkan datang ke rumah duka atau pemakaman.
Anak kecil dianggap masih memiliki energi yang lemah sehingga lebih rentan terkena energi negatif menurut kepercayaan tradisional Tionghoa.
Karena itu, sebagian keluarga memilih menitipkan anak selama prosesi pemakaman berlangsung.
Dalam budaya Tionghoa, membawa pulang barang dari rumah duka dipercaya dapat membawa energi kesedihan atau nasib buruk.
Itulah sebabnya tamu biasanya tidak sembarangan mengambil barang, makanan, atau benda tertentu dari lokasi rumah duka tanpa izin.
Sebaliknya, keluarga yang berduka biasanya memberikan benda khusus seperti benang merah atau permen sebagai simbol penolak bala bagi tamu yang datang.
Setelah menghadiri pemakaman, sebagian orang Tionghoa memiliki kebiasaan singgah terlebih dahulu ke tempat lain sebelum pulang ke rumah.
Tujuannya untuk membersihkan energi duka agar tidak terbawa masuk ke rumah.
Ada juga yang mencuci tangan, membasuh wajah, atau melepas benang merah sebagai simbol pembersihan diri sebelum kembali ke rumah.
Saat suasana berkabung, ucapan negatif, pertengkaran, atau kata-kata kasar sangat dihindari.
Budaya Tionghoa percaya bahwa perkataan memiliki energi dan doa. Karena itu, menjaga ucapan selama masa berkabung dianggap penting agar tidak membawa kesialan bagi keluarga.
Biasanya orang-orang akan berusaha berbicara dengan sopan dan menjaga suasana tetap tenang.
Jika diperhatikan, sebagian besar pantangan orang meninggal Tionghoa sebenarnya memiliki tujuan yang baik, seperti:
Walaupun beberapa tradisi terdengar mistis, banyak nilai moral yang sebenarnya masih relevan hingga sekarang, seperti menghargai suasana duka dan menjaga empati kepada keluarga yang kehilangan.
Tidak selalu. Setiap keluarga Tionghoa memiliki tradisi dan tingkat kepercayaan yang berbeda-beda.
Ada keluarga yang masih menjalankan seluruh adat secara lengkap, terutama yang masih memegang budaya tradisional. Namun ada juga yang lebih fleksibel dan hanya menjalankan sebagian tradisi saja.
Selain itu, perbedaan agama, daerah asal, hingga pengaruh budaya modern juga membuat tradisi pemakaman Tionghoa bisa berbeda antara satu keluarga dengan lainnya.
Mengurus prosesi pemakaman tentu bukan hal yang mudah, apalagi jika harus memahami berbagai adat, tradisi, dan pantangan dalam pemakaman Tionghoa maupun Buddha.
Karena itu, penting untuk menggunakan layanan yang profesional dan berpengalaman agar seluruh proses berjalan dengan lancar, tertata, dan tetap menghormati tradisi keluarga.
Kamboja.co.id siap membantu Anda dalam layanan pengurusan jenazah, pengurusan pemakaman Tionghoa, hingga funeral manager Buddha dengan pendampingan yang profesional dan penuh empati. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jasa pemakaman dan pengurusan jenazah terdekat, silakan hubungi Kamboja.co.id di nomor 082211111415.