
Dalam tradisi Tionghoa, prosesi pemakaman bukan hanya tentang mengantar orang yang telah meninggal ke peristirahatan terakhir. Ada banyak simbol, adat, dan tata cara yang memiliki makna mendalam, termasuk dalam hal pakaian melayat Tionghua yang dikenakan oleh anggota keluarga.
Bagi sebagian orang yang baru pertama kali menghadiri pemakaman Tionghoa, mungkin akan merasa bingung melihat anggota keluarga mengenakan pakaian yang berbeda-beda. Ada yang memakai kain goni, ada yang mengenakan pita warna tertentu, sementara yang lain hanya menggunakan tanda kecil di lengan atau dada.
Perbedaan ini bukan tanpa alasan. Dalam budaya Tionghoa, pakaian duka digunakan untuk menunjukkan hubungan keluarga dengan almarhum atau almarhumah. Semakin dekat hubungan kekerabatannya, biasanya semakin sederhana dan "berat" pakaian dukanya.
Lalu, bagaimana perbedaan pakaian melayat untuk anak, cucu, dan cicit? Apa makna di balik perbedaan tersebut? Mari kita bahas secara lengkap.
Dalam filosofi Tionghoa, penghormatan kepada orang tua dan leluhur merupakan bagian penting dari nilai filial piety atau bakti kepada keluarga.
Ketika seseorang meninggal dunia, keluarga yang ditinggalkan menunjukkan rasa hormat, kehilangan, dan kedekatan hubungan melalui pakaian yang dikenakan selama masa berkabung.
Karena tingkat hubungan keluarga berbeda-beda, maka simbol berkabung yang digunakan juga berbeda.
Tujuan utama penggunaan pakaian duka ini adalah:
Dalam budaya Tionghoa, terdapat konsep generasi yang sangat kuat. Secara umum, anggota keluarga dibedakan menjadi:
Masing-masing kelompok memiliki atribut berkabung yang berbeda.
Meski detailnya dapat berbeda tergantung dialek keluarga (Hokkien, Teochew, Kanton, Hakka, dan lain-lain), prinsip umumnya tetap sama: semakin dekat hubungan dengan almarhum, semakin besar simbol dukanya.
Selain penggunaan warna putih dan atribut berkabung, dalam sebagian tradisi pemakaman Tionghoa di Indonesia terdapat sistem yang dikenal sebagai pangkat berkabung. Pangkat ini digunakan untuk menunjukkan hubungan keluarga dengan mendiang dan biasanya dikenakan di lengan, dada, topi, atau pakaian berkabung.
Secara umum, berikut adalah sistem pangkat yang cukup banyak ditemukan dalam tradisi Tionghoa Indonesia.
Anak laki-laki kandung serta menantu perempuan biasanya mendapatkan pangkat berupa potongan kain goni kasar.
Dalam tradisi Tionghoa, anak laki-laki dianggap sebagai penerus garis keluarga sehingga memiliki tanggung jawab berkabung yang paling besar. Kain goni kasar dipilih karena teksturnya yang tidak nyaman sebagai simbol kesedihan mendalam atas kepergian orang tua.
Sementara itu, menantu perempuan yang telah menikah dianggap telah menjadi bagian dari keluarga suami sehingga biasanya mengikuti aturan berkabung yang sama dengan anak laki-laki.
Maknanya:
Anak perempuan yang telah menikah umumnya menggunakan potongan goni halus.
Hal ini karena dalam tradisi Tionghoa klasik, anak perempuan yang menikah dianggap telah menjadi bagian dari keluarga suaminya. Walaupun tetap memiliki hubungan darah dengan orang tua kandung, posisi berkabungnya dibedakan dari anak laki-laki.
Maknanya:
Cucu yang berasal dari garis anak laki-laki atau sering disebut sebagai cucu dalam biasanya mengenakan kain atau pangkat berwarna biru tua.
Dalam sistem keluarga Tionghoa tradisional, garis keturunan anak laki-laki dianggap sebagai penerus marga keluarga. Oleh karena itu, atribut berkabung mereka dibedakan dari cucu yang berasal dari garis anak perempuan.
Maknanya:
Cucu yang berasal dari anak perempuan umumnya menggunakan pangkat berwarna biru muda.
Mereka tetap memiliki hubungan darah dengan mendiang, tetapi secara adat dianggap berada di luar garis marga utama karena mengikuti keluarga ayahnya.
Maknanya:
Apabila mendiang telah memiliki cicit, maka cicit dari garis anak laki-laki biasanya mengenakan pangkat atau kaos berwarna kuning.
Pada beberapa keluarga, keberadaan cicit bahkan dianggap sebagai simbol keberhasilan dan keberkahan hidup karena menunjukkan bahwa mendiang telah memiliki keturunan hingga generasi keempat.
Maknanya:
Sementara itu, cicit yang berasal dari garis anak perempuan biasanya menggunakan kaos atau atribut berwarna merah muda.
Pembedaan ini kembali mengikuti konsep garis keturunan dalam budaya Tionghoa tradisional.
Maknanya:
Jika Anda adalah anggota keluarga, biasanya pihak yang mengatur prosesi pemakaman akan membagikan atribut berkabung sesuai posisi keluarga masing-masing.
Namun jika Anda adalah tamu pelayat, cukup gunakan:
Merah dalam budaya Tionghoa identik dengan kebahagiaan dan perayaan sehingga kurang sesuai digunakan saat melayat dan biasa termasuk dalam pantangan orang meninggal tionghua.
Apabila Anda membutuhkan bantuan terkait pengurusan pemakaman Buddha, pemakaman Tionghoa, kremasi, pengurusan administrasi kedukaan, hingga pendampingan prosesi oleh funeral manager yang berpengalaman, Anda dapat menghubungi Kamboja.co.id Funeral Management di nomor 082211111415.
Tim funeral manager Kamboja.co.id menyediakan layanan pengurusan pemakaman dan kremasi Buddha secara profesional, termasuk bantuan administrasi kedukaan dan pendampingan keluarga selama proses berlangsung.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai jasa pengurusan pemakaman Tionghoa, pemakaman Buddha, kremasi, maupun konsultasi kebutuhan kedukaan lainnya, jangan ragu untuk menghubungi hotline Kamboja.co.id yang siap membantu Anda dan keluarga.