
Kalau biasanya kita mengenal proses pemakaman yang dilakukan segera setelah seseorang meninggal, pemakaman sumba justru punya cara yang sangat berbeda dan unik.
Di Tanah Marapu, jenazah tidak langsung dikuburkan, bahkan bisa disimpan di dalam rumah selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Buat yang baru dengar, mungkin terasa tidak biasa, bahkan sedikit mengejutkan.
Menariknya lagi, meskipun disimpan dalam waktu lama, jenazah tidak menimbulkan bau menyengat. Hal ini karena tubuh dibungkus dengan puluhan lapisan kain khas Sumba yang dipercaya bisa memperlambat proses pembusukan.
Nah, di artikel ini kita bakal bahas lebih dalam tentang tradisi pemakaman sumba, mulai dari prosesnya, maknanya, sampai alasan di balik praktik yang unik ini.
Salah satu hal paling unik dalam pemakaman sumba adalah jenazah tidak langsung dimakamkan, tapi justru disimpan dulu di dalam rumah. Buat sebagian orang, ini mungkin terasa nggak biasa, tapi bagi masyarakat Sumba yang menganut kepercayaan Marapu, hal ini adalah bagian penting dari tradisi.
Dalam kepercayaan mereka, seseorang yang meninggal belum sepenuhnya dianggap pergi. Jenazah masih dipandang sebagai bagian dari keluarga yang “sedang dalam perjalanan”, sehingga tetap ditempatkan di rumah bersama anggota keluarga lainnya.
Bahkan, selama masa ini, jenazah diperlakukan dengan penuh penghormatan seolah-olah masih hidup. Proses penyimpanan ini bisa berlangsung cukup lama, mulai dari beberapa bulan hingga bertahun-tahun.
Biasanya, keluarga menunggu waktu yang tepat untuk menggelar upacara pemakaman besar yang melibatkan banyak orang dan membutuhkan persiapan matang, baik dari segi adat maupun biaya.
Dalam kepercayaan Marapu, orang yang meninggal belum benar-benar pergi, tapi dianggap masih berada di tengah keluarga untuk sementara waktu. Karena itu, keluarga tetap berinteraksi dengan jenazah seperti biasa.
Mereka bisa mengajak berbicara, menyampaikan cerita, bahkan menyampaikan perasaan seolah-olah orang tersebut masih bisa mendengar.
Ini bukan hal aneh bagi mereka, tapi justru bentuk kedekatan dan rasa sayang yang masih terjaga. Selain itu, jenazah juga diberi makan secara simbolis. Biasanya keluarga akan meletakkan makanan atau minuman di dekat jenazah sebagai bentuk penghormatan.
Bukan berarti benar-benar dimakan, tapi lebih ke simbol bahwa mereka tetap memperlakukan almarhum sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tradisi ini menunjukkan bahwa dalam budaya Sumba, kematian tidak langsung memutus hubungan. Justru ada masa transisi di mana keluarga masih bisa bersama dengan orang yang telah meninggal, sebelum akhirnya benar-benar dilepas melalui upacara pemakaman adat.
Kalau dengar jenazah disimpan lama di dalam rumah, mungkin yang langsung terbayang adalah bau tidak sedap. Tapi menariknya, dalam tradisi pemakaman sumba, jenazah justru tidak menimbulkan bau menyengat seperti yang dibayangkan.
Hal ini bukan kebetulan, tapi karena ada serangkaian proses adat yang dilakukan dengan sangat detail dan penuh makna. Berikut beberapa alasan kenapa jenazah tetap terjaga dalam kondisi tersebut:
Setelah jenazah dimandikan, tubuhnya langsung dibungkus menggunakan puluhan lapisan kain adat khas Sumba. Proses ini dilakukan dengan sangat rapi dan menyeluruh hingga hampir tidak ada bagian tubuh yang terbuka.
Lapisan kain ini berfungsi seperti pelindung alami yang membantu memperlambat proses pembusukan. Selain itu, kain adat juga punya nilai simbolis sebagai bentuk penghormatan terakhir dari keluarga kepada orang yang telah meninggal.
Jenazah tidak dibiarkan dalam posisi lurus seperti umumnya, melainkan kaki dan tangan ditekuk hingga menyerupai posisi janin dalam kandungan. Posisi ini dipercaya melambangkan siklus kehidupan bahwa manusia kembali ke asalnya.
Selain makna filosofis, posisi ini juga membuat tubuh lebih “ringkas” sehingga lebih mudah dibungkus rapat oleh kain, yang secara tidak langsung membantu menjaga kondisi jenazah.
Jenazah juga diberikan berbagai atribut khusus seperti mamuli (hiasan emas di bagian mulut), manik-manik di tangan dan kaki yang disebut anahida, serta anting-anting bagi perempuan.
Pemberian atribut ini bukan sekadar hiasan, tapi juga simbol status, penghormatan, dan bekal untuk perjalanan menuju alam berikutnya. Semua perlengkapan ini menjadi bagian penting dalam menjaga martabat jenazah sesuai adat.
Setelah dibungkus, jenazah tidak langsung dimasukkan ke peti, melainkan didudukkan di atas balai-balai kecil di dalam rumah. Posisi ini disandarkan pada tiang rumah, seolah-olah jenazah masih hadir di tengah keluarga.
Penempatan ini juga membuat jenazah tetap dalam posisi stabil dan terjaga, serta memudahkan keluarga untuk tetap berinteraksi secara simbolis.
Setelah semua proses awal selesai, jenazah dimasukkan ke dalam peti yang terbuat dari kayu atau bahkan kulit kerbau. Peti ini kemudian disandarkan pada tiang rumah dan diarahkan ke posisi tertentu sesuai kepercayaan.
Peti berfungsi sebagai lapisan tambahan yang menjaga kondisi jenazah tetap tertutup rapat.
Dalam tahap selanjutnya, biasanya dilakukan persembahan tambahan seperti menyembelih kuda. Imam kemudian memanjatkan doa kepada Marapu agar seluruh proses berjalan lancar dan arwah mendapatkan perlindungan.
Doa ini menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia spiritual.
Dalam tradisi pemakaman sumba, jenazah biasanya disimpan sambil menunggu upacara adat besar yang membutuhkan persiapan matang. Sekitar dua minggu sebelum prosesi penguburan, keluarga bersama kerabat mulai melakukan rangkaian persiapan seperti pawalla (mete).
Saat upacara berlangsung, akan ada nyanyian syair adat yang diiringi tarian duka (renja pai), dibawakan oleh laki-laki dan perempuan sebagai bentuk penghormatan sekaligus menceritakan perjalanan hidup almarhum bersama leluhur.
Menariknya, orang yang menyanyikan syair ini bukan sembarang orang, melainkan mereka yang sudah dipilih khusus dan harus memulai dengan sembahyang. Selama bertugas, mereka tidak boleh digantikan dan harus menyanyikan syair dengan tepat.
Jika terjadi kesalahan, mereka wajib melakukan ritual permohonan ampun kepada Marapu, karena dipercaya bisa membawa dampak buruk jika diabaikan.
Bagi masyarakat Sumba, kematian bukanlah akhir yang tiba-tiba, melainkan proses bertahap menuju alam berikutnya. Karena itu, kehadiran jenazah di rumah justru menjadi momen kebersamaan terakhir yang penuh penghormatan dan kasih sayang.
Tradisi ini mungkin terasa asing bagi sebagian orang, tapi justru di situlah letak kekayaan budaya Indonesia.
Mengurus pemakaman sering kali jadi hal yang cukup melelahkan di tengah suasana duka, apalagi kalau ada banyak detail yang harus dipersiapkan.
Untuk itu, Kamboja hadir dengan funeral service yang membantu meringankan beban keluarga, termasuk urusan logistik pemindahan jenazah dan rangkaian proses lainnya agar semuanya berjalan lebih teratur dan tenang.
Layanan ini juga memahami bahwa setiap daerah punya tradisi yang berbeda, seperti pemakaman batak, upacara adat asmat, hingga pemakaman toraja yang penuh nilai budaya dan membutuhkan penanganan khusus.
Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai jasa pemakaman ataupun layanan terkait lainnya, silahkan hubungi tim Kamboja di nomor 0822-1111-1415. Tim Kamboja siap membantu Anda dan keluarga dengan penuh kepedulian agar prosesnya dapat berjalan dengan lebih tenang di masa sulit ini.