Apa yang ada di pikiran Anda ketika membayangkan sebuah pemakaman? Biasanya, pemakaman diidentikkan dengan momen yang mengharukan, menyedihkan, serta penuh isak tangis. Akan tetapi, rupanya tidak semua masyarakat di dunia melewati prosesi pemakaman dengan nuansa seperti itu.

Salah satunya adalah masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan, yang menjalankan tradisi pemakaman sebagai wujud penghormatan terakhir bagi seseorang yang telah meninggal.

Tradisi tersebut disebut sebagai Rambu Solo atau Aluk Rambu Solo. Di Toraja, “aluk” sendiri merupakan nilai-nilai adat, kepercayaan, maupun ritual tradisional yang telah ditentukan oleh nenek moyang serta dijalankan dengan ketat.

Kalau begitu, seperti apa ya pelaksanaan tradisi pemakaman Rambu Solo di Toraja? Tanpa harus jauh-jauh berkunjung ke sana langsung, yuk simak ulasannya berikut ini terlebih dahulu.

Arti dan Makna Upacara Adat Rambu Solo

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Rambu Solo merupakan tradisi upacara adat pemakaman yang dilaksanakan oleh masyarakat Suku Toraja.

Pelaksanaan tradisi ini merupakan bentuk atau simbol penghormatan terakhir bagi seseorang yang telah meninggal.

Bagi masyarakat Toraja, kematian bukanlah akhir dari perjalanan seorang manusia, namun merupakan perpindahan seseorang dari dunia ke alam roh agar dapat beristirahat. Alam tersebut disebut sebagai Puya.

Dan sebagai bagian dari perjalanan untuk mencapai tujuan tersebut, mayat wajib mendapatkan perlakuan yang baik oleh keluarga yang ia tinggalkan.

Berbeda dengan tradisi kebanyakan, tradisi Toraja menganggap seseorang baru benar-benar meninggal apabila semua proses upacara adat Rambu Solo sudah dipenuhi.

Apabila belum, orang meninggal tersebut akan diperlakukan seperti orang sakit, yang artinya masih harus diberi makanan dan minuman, serta dibaringkan di tempat tidur.

Lantas, berapa lama upacara adat Rambu Solo diselenggarakan? Seluruh rangkaian prosesi Rambu Solo rupanya makan waktu yang panjang. Sebagai sebuah ritual penting, tak jarang upacara ini diselenggarakan hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sejak meninggalnya seseorang. Dan karena itulah upacara adat ini juga bisa memakan waktu yang juga tinggi.

Di samping faktor durasi pelaksanaannya, biaya Rambu Solo yang tinggi juga dikarenakan adanya proses penyembelihan hewan seperti kerbau dan babi. Hewan yang disembelih tersebut menjadi hidangan yang disajikan dan dibagikan kepada warga sekitar, mengingat bahwa Rambu Solo dibuat selayaknya perayaan yang meriah mengingat tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terakhir untuk orang yang sudah meninggal.

Hal menarik lainnya dari Rambu Solo ini adalah penguburan seluruh sisa hasil usaha bersamaan dengan orang meninggal tersebut. Dilansir dari Detik, tokoh masyarakat Layuk Saroenggalo menjelaskan bahwa hal tersebut dilakukan agar anak-anak mendingan tidak menggantungkan diri pada warisan, dan bahwa harta harus dikembalikan ke masyarakat dalam wujud sosial.

Strata Pelaksanaan Rambu Solo

Upacara adat Rambu Solo juga dilangsungkan dengan melihat strata, status, atau tingkatan sosial orang yang telah meninggal. Dengan begitu, pelaksanaan Rambu Solo oleh keluarga yang status sosialnya lebih tinggi tentu berbeda dengan yang status sosialnya lebih rendah. Perbedaan tersebut memang untuk menunjukkan kelompok status sosialnya.

A. Upacara Dissili’.

Ritual ini merupakan ritual upacara pemakaman untuk orang yang strata sosialnya paling rendah, atau untuk anak yang belum memiliki gigi dan telah meninggal. Lebih lanjut lagi, upacara Dissili’ dibagi ke dalam 4 (empat) bentuk.

B. Upacara Dipasangbongi.

Sedangkan bagi seseorang yang masuk ke dalam strata rakyat biasa, ritual upacara yang dilaksanakan dinamakan upacara Dipasangbongi. Ritual ini juga terdiri atas 4 (empat) bentuk, namun masing-masing bentuknya berbeda – ada yang mengorbankan babi sebanyak 4 ekor hingga kerbau 2 ekor.

C. Upacara Dibatang (Digoya Tedong).

Kemudian ada upacara Dibatang atau Digoya Tedong, yang diselenggarakan apabila orang yang meninggal adalah bagian dari kalangan bangsawan menengah. Upacara Dibatang terdiri atas 3 (tiga) jenis, dan masing-masing diselenggarakan selama 3, 5 dan 7 hari, sedangkan jumlah babi dan kerbau yang dikorbankan pun berbeda-beda, mulai dari 3 sampai 7 ekor.

D. Upacara Rapasan.

Dan untuk kalangan bangsawan tinggi, ritual yang dilaksanakan disebut sebagai upacara Rapasan dan diselenggarakan sebanyak 2 (dua) kali dalam jangka waktu setahun. Upacara yang pertama dilaksanakan disebut sebagai Aluk Pia, dan yang kedua disebut sebagai Aluk Rante. Lebih lanjut lagi, upacara Rapasan dibagi ke dalam 3 (tiga) jenis dengan jumlah babi dan kerbau yang jauh lebih banyak untuk disembelih, yaitu 9 hingga lebih dari 100 ekor.

Tata Cara Pelaksanaan Rambu Solo

Kemudian, seperti apa ya tata cara pelaksanaan upacara Rambu Solo? Prosesinya sendiri dibagi ke dalam 2 (dua) prosesi utama, yaitu pemakaman (rante), dan pertunjukan seni. Keduanya diadakan bersamaan dalam satu upacara pemakaman yang sama, yang dapat berlangsung selama 3 hingga 7 hari.

Prosesi Rante sendiri dilakukan di tanah kosong yang ada di tengah kompleks rumah adat Tongkonan, serta terdiri atas beberapa bagian:

  • Pertama adalah Ma’Tudan Mebalun, yaitu proses pembungkusan jenazah dengan kain kafan oleh To Mebalun atau To Ma’kayo.
  • Kedua adalah Ma’Roto, yaitu proses menghias atau membubuhi peti jenazah menggunakan benang perak dan benang emas.
  • Ketiga adalah Ma’Popengkalo Alang, yaitu proses penurunan jenazah ke lumbung sebagai tempat persemayamannya.
  • Terakhir adalah Ma’Palao atau Ma’Pasonglo, yaitu pengantaran jenazah dari rumah Tongkonan ke Lakkian, yaitu kompleks pemakamannya.

Meskipun terkesan meriah terutama karena adanya pertunjukan seni sebagai bagian dari Rambu Solo, prosesi ini sendiri bukan sekadar untuk menyemarakkan upacara. Pasalnya, pertunjukan seni dilakukan juga sebagai wujud penghormatan sekaligus doa bagi seseorang yang telah meninggal.

Beberapa contoh pertunjukan seni yang biasa diselenggarakan dalam Rambu Solo misalnya Ma’pasillaga Tedong atau adu kerbau, Ma’tinggoro Tedong atau penyembelihan kerbau, hingga pertunjukan musik serta tarian adat masyarakat Toraja.

Dalam pertunjukan seninya, masyarakat Toraja juga menunjukkan simbol sikap gotong royong, saling menolong, serta kekeluargaan.

Bagaimana Jika Rambu Solo Tidak Terlaksana?

Sebagai sebuah Aluk, bisa disimpulkan bahwa pelaksanaan Rambu Solo adalah hal wajib bagi masyarakat Toraja. Ditambah lagi, terdapat keyakinan bahwa jika Rambu Solo tidak diselenggarakan, akan datang kemalangan yang menimpa orang-orang yang ditinggalkan tersebut.

Oleh karena itulah Rambu Solo tetap terus dilaksanakan masyarakat Toraja sampai saat ini, bahkan ketika dunia sudah jauh lebih modern. Tak hanya itu saja, pelaksanaan upacara adat Rambu Solo juga menjadi cara masyarakat Toraja terus melestarikan nilai dan adat yang sudah diwariskan secara turun-temurun dari para leluhurnya.

Rambu Solo sendiri sebenarnya juga bisa jadi salah satu contoh betapa mahalnya biaya pemakaman saat ini, bahkan meskipun prosesinya sendiri tidak makan waktu sampai berhari-hari. Apalagi di kota-kota besar saat ini, di mana biaya pemakaman bahkan bisa mencapai jutaan.

Mengingat bahwa kematian adalah hal yang pasti, tentu tak ada salahnya merencanakan biaya pemakaman mulai dari saat ini, kan? Apalagi sekarang sudah ada asuransi pemakaman Kamboja yang bisa memberikan proteksi bagi Anda dan keluarga. Selain membantu biaya pemakaman, asuransi ini juga dapat membebaskan beban finansial bagi keluarga yang ditinggalkan selama berduka.

Artikel Lainnya

Mengenal Hukum Waris yang Berlaku di Indonesia

7 Tempat Pemakaman Termahal Di Indonesia, Elit dan Bertaraf Internasional

Segala kebutuhan mereka
di saat kita telah tiada

Proses pemakaman merupakan sebuah beban yang kadang tidak terpikirkan. Dapatkan kemudahan bersama kami.
Proteksi Pemakaman Jasa Pemakaman